MAKALAH
PEMIKIRAN FILSAFAT ISLAM TIMUR
AL-KINDI
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Filsafat Islam
Dosen Pengampu: Anindya Aryu Inayati, M.P.I
Disusun Oleh:
Naimah Sundari (2119007)
Kelas F
JURUSAN PENDIDIDKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2020
KATA PENGANTAR
Alhamdullilah, Puji syukur ke hadirat Allah swt. atas segala nikmat dan karunia-Nya sehingga makalah yang berjudul “Pemikiran Filsafat Timur: Al-Kindi” ini dapat diselesaikan. Salawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw., keluarganya, dan para sahabatnya. Ucapan terimakasih kami tunjukkan kepada Ibu Anindya Aryu Inayati, MPI selaku dosen mata kuliah Filsafat Islam atas tugas yang diberikan sehingga dapat menambah wawasan penulis tentang pemikiran filsafat timur: Al-Kindi. Makalah ini menjelaskan tentang riwayat hidup dan pemikiran dari filsuf Al-Kindi yang penulisannya berdasarkan kaidah-kaidah penulisan karya secara umum dengan pendekatan gaya selingkung yang dipakai di IAIN Pekalongan.
Makalah ini dibuat dengan semaksimal mungkin. Namun, apabila didapati kekurangan dan kesalahan, penulis dengan senang hati menerima saran dan kritik konstruktif dari pembaca guna penyempurnaan penulisan makalah yang mendatang. Akhirnya, semoga makalah ini menambah khazanah keilmuan dalam penulisan makalah dan bermanfaat bagi mahasiswa. Aamiin yaa robbal ‘alamin.
Pekalongan, 8 Oktober 2020
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………. 1
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………….. 2
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………………………. 3
A. Latar Belakang…………………………………………………………………………………. 3
B. Rumusan Masalah……………………………………………………………………………. 3
C. Tujuan……………………………………………………………………………………………… 3
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………………………….. 4
A. Riwayat Hidup…………………………………………………………………………………. 4
B. Pandangan Al-Kindi Mengenai Definisi Filsafat………………………………… 4
C. Pokok Pikiran Al-Kindi……………………………………………………………………... 5
D. Karya-Karya Al-Kindi………………………………………………………………………… 9
BAB III PENUTUP………………………………………………………………………………………… 11
A. Kesimpulan……………………………………………………………………………………... 11
B. Saran……………………………………………………………………………………………….. 11
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………….… 12
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu tokoh pemikir penting dari periode islam klasik adalah Al-Kindi. Ia dikenal dengan sebutan Filsuf Arab karena ia merupakan Filsuf Arab pertama kali yang memelopori penerjemahan, dan memperkenalkan tulisan para filsuf Yunani kepada dunia Islam. Bisa dikatakan, pemikiran-pemikirannya sedikit banyak terpengeruh oleh pemikiran filsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles. Pemikiran-pemikirannya kemudian menginspirasi lahirnya para pemikir (filsuf) muslim sesudahnya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah riwayat hidup Al-Kindi?
2. Bagaimanakah pandangan Al-Kindi mengenai definisi filsafat?
3. Bagaimanakah hasil pemikiran Al-Kindi?
4. Apa sajakah karya-karya dari Al-Kindi?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui riwayat hidup Al-Kindi.
2. Untuk mengetahui pandangan Al-Kindi mengenai definisi filsafat.
3. Untuk mengetahui hasil pemikiran Al-Kindi.
4. Untuk mengetahui karya-karya Al-Kindi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Riwayat Hidup
Al-Kindi ialah ilmuan dan filosof besar Islam yang hidup pada masa Dinasti Abbasiyah di bawah kepemimpinan lima khalifah, yaitu Al-Amin (809 M – 813 M), Al-Makmun (813 M – 833 M), Al-Mu’tashim (833 M – 842 M), Al-Watsiq (842 M – 847 M), dan Al-Mutawakkil (847 M – 861 M). Al-Kindi mempunyai nama lengkap yaitu Abu Yusuf Ya’qub bin Sabbah bin Imran bin Isma’il al-Ash’ats bin Qais al-Kindi. Al-Kindi adalah keturunan dari orang terkenal di sebuah suku besar di Arab Selatan pada masa sebelum Islam yaitu suku Kindah dan berasal dari keluarga terhormat dengan status sosial tinggi. Ayahnya bernama Ishaq as-Shabbah, yang pernah menduduki jabatan sebagai gubernur Kufah pada masa Khalifah Al-Mahdi (775-778M) dan Khalifah Ar-Rasyid (786-809M). Kakeknya bernama Al-Ash’ats bin Qais, merupakan salah seorang sahabat Rasulullah Saw.
Tahun kelahirannya belum diketahui pasti dan akhirnya oleh beberapa ahli disepakati bahwa Al-Kindi lahir pada tahun 801 M.
B. Pandangan Al-Kindi Mengenai Definisi Filsafat
Pandangan al-Kindi mengenai definisi filsafat, antara lain:
1. Dari segi kebahasaan
Filsafat sebagai cinta kebijaksanaan. Diambil dari asal kata filsafat yang berasal dari bahasa Yunani yaitu philo (cinta, suka) dan shopia (pengetahuan, hikmah, dan kebijaksanaan).
2. Dari segi fungsional
a. Filsafat adalah usaha manusia meneledani perbuatan tuhan yang dapat dijangkau oleh akal manusia.
b. Filsafat adalah latihan untuk mati, karena menurutnya filsafat adalah suatu bentuk latihan yang akan memandu bercerainya jiwa dari badan serta mematikan hawa nafsu untuk mencapai suatu keutamaan.
c. Filsafat adalah pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri.
3. Dari segi materi
Filsafat sebagai suatu bentuk pengetahuan tentang segala sesuatu yang bersifat menyeluruh, baik esensinya maupun kausa-kausanya.
C. Pokok Pikiran
1. Pemaduan Filsafat dan Agama
Pemaduan filsafat dan agama karena terjadi karena pertentangan antara agama dan filsafat yang terjadi pada masa itu. Sebelum ia berhasil mendamaikan keduanya, agama dan filsafat dianggap sebagai dua disiplin ilmu yang bertolak belakang, karena agama mengandalkan wahyu dan filsafat mengandalkan akal atau logika.
Pertentangan antara filsafat Yunani dan agama dimulai ketika orang Nasrani menerjemahkan buku-buku filsafat Yunani untuk pertama kalinya pada masa khalifah Harun ar-Rasyid dan al-Makmun. Ketika itu, pemikiran islam sedang berada di puncak kegemilangannya. Masuknya filsafat Yunani ke dalam islam lantas dianggap sebagai “musuh” yang harus dilawan. Al-Kindi kemudian tampil sebagai juru damai diantara keduanya.
Usaha al-kindi membuahkan hasil yang positif. Sebab, argumen yang dikemukakannya tentang filsafat dan agama berhasil diterima oleh kalangan kerajaan, ilmuwan, dan agamawan pada masa Al-Makmun. Keberhasilannya ini merupakan salah satu jasa besarnya bagi kemajuan peradaban Islam, khusunya di bidang pemikiran.
Al-Kindi mengemukakan tiga alasan mendasar untuk memperkuat argumentasinya tentang pemaduan filsafat dan agama sebagai berikut:
a.) Ilmu agama merupakan bagian dari filsafat.
b.) Wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. dan kebenaran filsafat saling relevan.
c.) Secara logika, menuntut ilmu diperintahkan dalam agama.
Menurut al-Kindi, sebenarnya antara filsafat dan agama tidaklah bertentangan karena keduanya merupakan ilmu menuju kebenaran yang sama, yaitu ilmu tentang ketuhanan, keesaan, dan keutamaan, serta ilmu-ilmu yang mengajarkan jalan memperoleh sesuatu yang bermanfaat, dan menjauhkan diri dari ke mudharatan.
2. Metafisika Al-Kindi
Metafisika merupakan salah satu dari cabang filsafat umum. Metafisika itu sendiri terbagi menjadi empat bagian, yaitu:
a. Ontologi (Filsafat Ketuhanan)
Merupakan cabang filsafat yang membahas tentang Tuhan beserta segala sifat dan dzat-Nya. Franz Magnis-Suseno menjelaskan bahwa filsafat ketuhanan adalah pemikiran objektif, sistematik, dan mendasar tentang Tuhan.
Dalam pandangan al-Kindi, Tuhan adalah wujud yang sebenarnya. Artinya, wujud Tuhan itu abadi atau kekal dan wujud Tuhan itu adalah wujud yang sempurna, maksudnya adalah wujud yang tidak didahului oleh yang lain. Jadi, dalam pemikiran al-Kindi menunjukkan bahwa filsafat ketuhanannya tidak bertentangan dengan islam. Karena dalam konsep islam Tuhan itu satu, dan Dia adalah kekal atau qadim.
Kemudian terkait dengan benda-benda yang ada di alam semesta ini, Al-Kindi membaginya dalam dua jenis berdasarkan hakikatnya, yaitu juz’I (parsial) yang disebut ‘aniah dan kulli (universal) yang disebut mahiyah. Menurutnya, Tuhan itu tidak mempunyai hakikat dalam arti ‘aniah dan mahiyah. Menurutnya, Dia tidak ‘aniah karena Dia bukanlah benda yang memiliki sifat fisik dan tidak pula termasuk benda di alam semesta ini. Tuhan bukan benda yang tersusun dari materi dan Tuhan tidak memiliki bentuk. Kemudian, Dia tidak mahiyah karena Dia tidak berupa genus atau spesies. Inti dari pemikiran Al-Kindi, Tuhan merupakan sesuatu yang pertama dan benar tunggal. Selain dari Tuhan disebut mahiyah dan ‘aniah.
Al-Kindi tidak sembarangan dalam mengemukakan pendapatnya tentang Tuhan. Ia memiliki banyak alasan dan pendapat (argument) untuk memperkuat pendapatnya. Dalam sejarah filsafat islam, dijelaskan bahwa ada tiga argument yang dikemukakan Al-Kindi untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada dan kekal. Argumen pertama tentang barunya alam, maksudnya adalah alam semesta bersifat baru dan sesuatu yang baru pasti diciptakan oleh Tuhan dikarenakan Tuhan itu qadim (bukan baru), Tuhan merupakan pencipta pertama dan tidak diciptakan oleh siapapun. Argumen kedua ialah tentang keanekaragaman dalam wujud. Menurut Al-Kindi, terjadinya keanekaragaman dan keseragaman dalam wujud bukan secara kebetulan. Maksudnya adalah adanya wujud yang berbeda-beda di alam semesta tidak secara kebetulan. Tetapi ada yang merancang atau menciptakannya. Argumen ketiga ialah tentang kerapian alam, alam semesta tidak mungkin teratur dan terkendali begitu saja tanpa ada yang mengatur dan mengendalikannya.
b. Kosmologi (Filsafat Alam)
Al-Kindi memiliki pendapat yang sama dengan Aristoteles. Ia berpendapat bahwa seluruh benda yang ada di alam dapat dikatakan wujud yang aktual apabila mengandung empat ‘illat yaitu materi, benda, bentuk benda, pembuat benda, dan manfaat benda. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa filsafat alam Al-Kindi dipengaruhi oleh pemikiran Aristoteles.
Al-Kindi berpandangan bahwa alam ini baru. Pandangannya tentang kebaruan alam sama halnya dengan pandangan Aristoteles. Dalam pandangan Aristoteles, setiap benda konkret tersusun atas meteri yang merupakan kapasitas untuk menerima bentuk atau dibentuk, dan forma yang ada dalam materi untuk membentuknya menjadi benda sebagaimana adanya. Pandangan ini mengindikasikan bahwa materi merupakan sesuatu yang tetap hadir dalam sesuatu yang berubah, yaitu berubah dalam bentuk. Maka materi adalah suatu kebaruan.
Al-Kindi membagi benda ke dalam tiga dimensi yakni panjang, lebar, dan tinggi. Untuk memperkuat pendapatnya tentang kebaruan alam, Al-Kindi mengemukakan dalam tiga pendapat, yaitu:
a) Suatu benda dapat ada apabila ia bergerak. Artinya, tidak mungkin benda itu ada bila tidak ada gerak. Maka, setiap benda pasti bergerak (digerakkan).
b) Berhubungan dengan waktu. Pergerakan benda itu menunjukkan adanya waktu atau zaman.
c) Tentang benda. Sebagai konsekuensi dari gerakan tadi maka sesungguhnya gerak mengharuskan adanya benda.
Meskipun Al-Kindi sependapat dengan Aristoteles, tetapi Al-Kindi juga menolak beberapa pandangan Aristoteles tentang alam. Salah satu pemikiran Aristoteles yang ditolak atau ditentang adalah ke-qadim-an alam semesta. Aristoteles beranggapan bahwa alam semesta tidak terbatas, maksudnya adalah alam semesta itu qadim. Sedangkan al-Kindi sependapat dengan teologi muslim dan berbeda dengan pandangan kaum filsuf muslim yang datang sesudahnya. Al-Kindi berkeyakinan bahwa informasi yang ada dalam al-Qur’an tentang barunya alam adalah benar. Seperti diketahui, di dalam al-Qur’an secara jelas menerangkan bahwa alam semesta ialah ciptaan Allah Swt., maksudnya adalah Alam semesta itu diciptakan oleh Allah Swt.
c. Filsafat Jiwa
Filsafat ini dipengaruhi oleh filsafat Yunani, ia mengatakan bahwa jiwa merupakan jauhar basith (tunggal, tidak tersusun, tidak panjang, dan tidak lebar). Al-Kindi berkeyakinan bahwa jiwa itu tidak akan musnah. Sebab, substansi jiwa berasal pada substansi Tuhan. Tetapi, jiwa bersifat baru karena ia diciptakan. Pendapat al-Kindi sejalan dengan penjelasan al-Qur’an dan hadits Rasulullah Saw. bahwa manusia tidak akan mengetahui hakikat jiwa (ruh) karena hal itu adalah urusan Allah Swt.
4. Epistemologi Al-Kindi
Epistimologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membahas pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang pengetahuan. Istilah epistimologi berasal dari kata Yunani episteme yang artinya pengetahuan dan logos artinya ilmu. Maka, epistemologi bermakna ilmu pengetahuan.
Al-Kindi menyatakan bahwa ilmu pengetahuan atau epistemologi itu ada tiga macam, yaitu pengetahuan indrawi, pengetahuan yang diperoleh dengan jalan menggunakan akal atau rasional (filsafat), dan pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan (israqi/illuminat).
5. Perspektif Al-Kindi Tentang Etika
Etika adalah salah satu cabang filsafat yang berhubungan dengan perilaku manusia. Dalam bidang etika, al-Kindi berpendapat bahwa keutamaan manusia ialah budi pekerti yang terpuji. Ia membagi keutamaan tersebut menjadi dua, yaitu:
a. keutamaan sebagai asas dalam jiwa, meliputi amal dan ilmu. Asas dalam jiwa ini terbagi menjadi tiga yaitu hikmah (kebijaksanaan), saja’ah (keberanian), dan iffah (kesucian jiwa).
b. keutamaan di luar jiwa atau tidak terdapat dalam jiwa. Meskipun keutamaan ini tidak terdapat dalam jiwa manusia, tetapi ia merupakan hasil dari tiga macam keutamaan tersebut.
D. Karya-Karya Al-Kindi
1. Fi al-Falsafah al-Ula (Perihal Filsafat Pertama).
2. Al-Hasis ‘ala Ta’alum al-Falsafah (Anjuran untuk Belajar Filsafat).
3. Fi al-Radda’ala al-Mananiah (Penolakan Penganut Manichaeism), dan Masa’il al-Mithidin (Pernyataan-Pernyataan Kaum Ateis).
4. Maqalah fi al-Aql (Pembahasan tentang Akal).
5. Al-Hilal lid Daf’il Ahzan (Kiat Menghindari Kesedihan).
6. Risalah fi al-Ibanah an al-Illat al-Fa’illat al-Qaribah li Kawn wa al-Fasad (Penejelasan mengenai Sebab Dekat yang Aktif terhadap Alam dan Kerusakannya).
7. Risalah al-Hikmayyah fi Ashrar al-Ruhamiyah ( Kajian Filsuf tentang Rahasia-Rahasia Spiritual).
8. Fi Ibarah al-Jawami al-Fikriyyah (ungkapan-Ungkapan mengenai Ide-Ide Komperehensif).
9. Risalah fi Annahnu Jawahir la Ajsaam (Substansi-Substansi Tanpa Badan).
Selain karya-karya tersebut, Al-Kindi masih memiliki banyak karya yang lain. Ada yang menyatakan bahwa bahwa karya-karyanya mencapai 270 buah. Namun, sebagian besar karyanya tersebut hilang.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Al-Kindi ialah ilmuan dan filosof besar Islam yang hidup pada masa Dinasti Abbasiyah. Al-Kindi adalah keturunan dari orang terkenal di sebuah suku besar di Arab Selatan pada masa sebelum Islam yaitu suku Kindah dan berasal dari keluarga terhormat dengan status sosial tinggi. Tahun kelahirannya belum diketahui pasti dan akhirnya oleh beberapa ahli disepakati bahwa Al-Kindi lahir pada tahun 801 M. Pandangan Al-Kindi mengenai definisi filsafat, antara lain: dari segi kebahasaan, dari segi fungsional, dan dari segi materi. Pokok Pikiran: Pemaduan Filsafat dan Agama, Metafisika Al-Kindi (ontologi, Kosmologi (Filsafat Alam), dan filsafat jiwa), Epistemologi Al-Kindi, Perspektif Al-Kindi Tentang Etika.
B. Saran
Demikian makalah ini saya buat, Penulis berharap tulisan ini dapat menambah pengetahuan pembaca tentang Pemikiran Filsafat Islam Timur: Al-Kindi. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak saya harapkan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
Black, Antony. 2006. Pemikiran Politik Islam: Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
Aizid, Rizem. 2017. Para Pelopor Kebangkitan Islam. Yogyakarta: DIVA Press.
Fakhry, Majid. 1987. Sejarah Filsafat Islam. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.
Hermawan, Heris, dkk. 2011. Filsafat Islam. Bandung: Rineka Cipta.
Bertens, K. 1975. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.
Zar, Sirajuddin. 2004. Filsafat Islam: Filsuf dan Filsafatnya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Suseno, Franz Magnis. 2006. Menalar Tuhan. Yogyakarta: Kanisius.
Sudarminta. 2002. Epistemologi Dasar Pengantar Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Kanisius.
Muthahhari, Murtadha. 2009. Keadilan Ilahi: Asas Pandangan Dunia Islam. Bandung: Mizan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar